Entahlah bagimana pendapat orang lain mengenai saya sekarang. Centil kali yaa. Hehe
Suasana hati yang naik turun (dalam tingkat yang wajar) membuat saya ingin mengeksplorasi berbagai gaya penampilan yang menarik. Huuaah, sesungguhnya sangat menarik memadu padankan pakaian yang ada. Pakaian lama yang jarang dipakai dapat membuat penampilan bagus kalau pintar-pintarnya memainkan warna. Intinya sih, pede. Nah, mumpung saya lagi niat ya hajar aja bleh!! Ada kalanya saya cuek bebek kok. Haha.. Namanya juga cewek, pengennya heboh aja.
Meski begitu, ga ada yang beda kok sebenernya. Kalau dilihat lagi, baju yang saya pakai juga ga ada yang baru. Hmm.. sepertinya yang bikin kelihatan beda adalah saya agak rapi gitu deh. Hihihi..
Terkadang hari bisa menjadi menggembirakan ataupun mengecewakan. Bagaiamana jika ada hari yang terbagi atas dua kategori itu? Di satu sisi menggembirakan namun di sisi lainnya sedikit mengecewakan karena tidak dapat berbuat banyak. Hari itu membingungkan. Saya mengalami hari itu. Hari itu menggembirakan, setidaknya bagiku. Namun, ada kalanya bibir ini tak melepas kata keluar begitu saja. Terkunci rapat hingga tak dapat berkata-apa. Tidak ada tanggapan langsung pada apa yang terjadi. Biar saja begitu. Biar bibirku terkunci rapat, mataku tetap bicara, bukan?
Diam bukan berarti tak ada apa-apa. Diam itu sabar. Sabar itu bukan artinya pasif namun menunggu hingga saat baik tiba. Owke, saya mau karaoke lagu Jay Chou Wo bie zou dan Shan hu hai dulu.
Kali ini saya mau cerita mengenai liburan saya di kampung galaman, Lampung. Ketemu keluarga, ketemu teman-teman. Jadwal wajib ya datengin rumah sodara atu-atu. Abis itu ke rumah beberapa temen, mengunjungi orang tuanya gitu.. Ehmm.. kumpul-kumpul, hedon, kumpul-kumpul, hedon, lalu kebingungan karena B.O.K.E.K. Nah, itulah mengapa alasan saya di Jogja sehabis pulang kampung malah ga ada duit. Penyesuaian diri, gituh.
Di balik semua itu, saya senang kok. Tiada yang lebih membahagiakan selain bertemu orang-orang yang dicintai. Ketika berpisah memang ada sesuatu yang kurang tapi lama-lama juga biasa. Komunikasi yang nggak putus itu penting. Meski terpisah jarak, komunikasi hati tetep lanjut dong ya.. Eaaa... Selama di sana juga suka sebel sendiri. Lampung, Lampung (Bandar Lampung). Jalanan rusak nggak dibenerin juga. Dibenerin cuma ditembel trus rusak lagi. Adduuhh, padahal pejabat di sana kaya-kaya, loh.
Udah gitu, mayoritas di sana nggak sadar tata tertib lalu lintas. Lampu merah, trabas aja. Giliran saya nekad bertahan hingga lampu hijau, entah mobil atau motor bersauta-sautan membunyikan klakson supaya saya tidak menghalangi jalan mereka. Kadang, kalau kita mau jadi orang baik di sana, malah dapat umpatan. "Anjinglah,ka**anglah,bla bla bla...". Hadehh, di jalan kok makan ati. Ada satu cerita lagi. Ini juga tentang tekanan sosial. Ada suatu kelompok doa yang diundang ke pernikahan anak dari salah satu anggota kelompok doa. Nah, si anak ini pindah agama gitu. Lalu, ada salah satu anggota KD (Kelompok Doa) yangg punya jabatan kuat di KD disinyalir melarang ibu-ibu KD tidak datang karena murtad. Jadi, satu pun dari anggota KD tidak ada yang datang ke acara pernikahan tersebut.
Ow, heloow!!! Kok pada kepo gitu yah?! Kenapa pada ikut campur urusan orang? Kalau diundang, ya dateng aja. Lagian sebelumnya ga ada masalah. Trus, orang tuanya aja udah mengijinkan, kenapa orang lain malah repot. Pernikahan itu pilihan orang tersebut, hargailah pilihan orang lain. Gak usah kepo gitu. Kasihan yang punya hajat, tambah sedih, kok temen-temennya nggak ada yang mendukung. Aih, aih. Emang ya tekanan sosial itu sangat berpengaruh di kehidupan bermasyarakat. Apalagi yang memberi 'titah' mempunyai jabatan yang kuat maka orang lebih mengikut yang aman lalu lainnya mengikuti suara mayoritas. Hah, semoga saya tidak akan menjadi orang seperti itu. Harapan saya selanjutnya : menjadi orang yang tegas, punya suara mandiri,punya baby..*upps, sama siapa lagee??? hahaa...
Yah, begitulah sedikit cerita yang dibawa dari liburan hingga sebelum perang suku di Sidomulyo dimulai. #miris
Tema utama dari cerita saya hari ini adalah pola asuh.Pola asuh yang baik adalah kombinasi antara kontrol dan respon yang sesuai dari orang tua terhadap anak. Tidak selamanya orang tua dapat mengasuh anaknya dengan baik. Well, semua juga dilatarbelakangi oleh sejarah keluarga, kepribadian, pengalaman, bahkan pola pikir. Pola asuh orang tua menjadi hal yang utama dalam menentukan perilaku anak.
Meskipun banyak hal yang dapat mempengaruhi perilaku anak, seperti televisi, internet, dan teman sebaya, orang tua tetap menjadi agen utama dalam menentukan perilaku anak. Itu terjadi karena orang tua mempunyai kontrol terhadap pergaulan anak. Orang tua pula yang menentukan dengan siapa dan bagaimana anak bergaul. Itu terkait pula dengan penerapan pola asuh kepada anak. Kalau pengawasan orang tua terlalu lemah, anak mempunyai kemungkinan untuk bergaul dengan kelompok teman sebaya yang 'rusak' sehingga perilaku anak juga menjadi 'rusak'.
Sama seperti ketika saya meneliti seorang anak yang mempunyai gangguan sosio-emosi. Setelah diperdalam lagi, ternyata masalah utama bukan ada pada si anak,melainkan berasal dari orang tuanya. Peran dan pola asuh orang tualah yang mendorong anak untuk berperilaku tertentu yang pada akhirnya bisa menjadi karakteristik anak tersebut.
Seperti yang sudah saya katakan di atas, tidak selamanya orang tua dapat mengasuh anaknya dengan baik. Jika sudah begini, saya bertekad akan menjadi orangtua yang baik bagi anak saya nantinya. Saya tidak sempurna, maka sedang mencari pelengkap agar kesempurnaan itu terwujud! haha..
Wuaw, kamis ini benar-benar berat! Berat beban pikiran. Haiiish. Lagi galau (ups, lebih pas gundah), tugas banyak, ujiannya juga gitu. Pada akhirnya saya putuskan untuk mengeluh saja hari ini. Huufft. Udah. Agak legaan. Jadi begini, semalam saya cuma bobok 2 jam, itu aja karena ketiduran padahal laporan belum kelar. Otak nggak mau diajak kompromi lagi. Otaknya udah capek. Subuh-subuh gitu rasanya pengen teriak, deh. Tapi nanti kena marah satu kos, trus diusir ibu kos. Nah, lhoo.. Akhirnya gak jadi deh. Lalu saya sumpal mulut saya dengan TOP gopekan. Lumayan nikmatlah. Trus, di pukul tiga pagi saya mulai menggunting-gunting dan mengelem lampiran laporan itu. Aduuww..aduww..kamarnya jadi kusam gitu. Kusam? Kumpulan sampah!! (sampe saat ini sih). Pikiran lagi gak beres. Ya oloh, gue jorok banget!! Ke kampus pake baju yang malemnya udah dipake pergi trus dipake bobok trus dipake ngampus sampe sore!! Hyeekkss. Diinget-inget sampe eneg sendiri. Jorok banget gueee!!!! -pengakuan luar biasa, moga" blog ini ga saya hapus ya, haha-.
Yaah, tugas sudah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Jadi, tugas kuliah ada sesuatu hal yang menghasilkan gangguan perilaku yang tak terklasifikasikan. Masya ampun!!
Oke, tarik napas, buang. Nah, tadi laporannya udah terkumpul rapi. Printer saya lagi asik, mau dipake kerja. Printer punya perasaan kali ya. Jadi, dia tahu kalau saya lagi ga karuan gitu, jadi dia menghindari resiko rusak akibat dipukul-pukul (belum sampe dibanting, sih).
Trus nih, ya ujian tadi tuh bisa sih. Tapi kok, ya cuma begitu ternyata waktu pengerjaan yang saya gunakan itu sampe 2 jam! Pantesan kok, laper banget. Hahaha..
Btw, akhirnya dapet tiket pulang tanggal 23. Masih nggak rela pulang nih..... Huuukss.. tpi kudu pulang.
Ah, ah, kelamaan ngblog, lupa tujuan ke sini. Ngerjain seminar!! Ayayaya.... Ya ampun, hebring sendiri deh jadinya. Maklumlah, masih kacau. Byeee.. salam mata panda!
Mega-mega mendung setebal apa yang ada di atas sana. Kumal, hitam, dan menyeramkan. Sama seperti pikiran spontan yang keluar sesaat setelah membaca artikel mengenai rasa. Rasa yang tidak jelas juntrungannya. Apakah manis, asam, atau pahit. Ehm, mungkin sedikit pedas. Yap, terkadang. Di ruangan ini aku menyepi sambil menyaksikan jam dinding di atas pilar itu. Aku melihat jarum panjang yang tipis itu. Itu terus bergerak. Tidak mau berhenti. Bahkan, kekuatan pikiranku tidak bisa menghentikannya. Waktu terus berjalan. Bergerak maju menuju hari berikutnya. Besok, lusa, dua hari kemudian, seminggu kemudian, entah sebulan ke depan. Ragu-ragu terpejam mata ini untuk coba membayangkan keadaan di mana jarum itu terus bergerak lalu membawa waktu kian cepat berlalu. Sunyi, gelap. Di sana yang ada hanya kehampaan. Mungkin kesepian, sedikit tersangkalkan rupanya. Hari itu, jika sampai tiba waktu itu, aku kacau. Tak tahulah apa yang terjadi nanti.
Seyakinnya aku, hanya aku yang merasa, kalian tidak. Setitik belengu di pergelangan tangan memaksaku tak dapat meraih. Rantai dari baja yang begitu kokoh melilit di kedua mata kakiku. Jatuh saja aku ketika melangkah. Ketika mulut sudah tak kuasa bicara, bulir-bulir kemurnian pasti meringsek keluar menembus pertahanan. Seandainya waktu diam saja untuk sementara, mungkin aku akan bahagia. Aku hanya butuh sedikit waktu lebih lama untuk memahami ini semua.
Perih ini belum hilang, kepura-puraan terus dipertahankan. Kapan bisa tertawa lepas memandang ke depan menanti pagi cerah diliputi keceriaan mentari? Senyumnya terangkum mesra di sini. Di sini, kamu tahu? Membingungkan sekali ketika bicara begitu tidak ada yang menanggapi. Meratap sebentar sajalah, jangan lama-lama. Mungkin ada harap, mungkin ada kepastian,mungkin ada jalan keluar. Semuanya serba mungkin. Mungkin aku ada, mungkin kamu ada, mungkin kalian ada, mungkin dunia ada. Mungkin. Mungkin, rasa ini memang ada. Pahit, kurasa.
Semangat hati kembali kendur di pagi ini. Renyah tawa hanya jadi ingatan sajalah. Aku tahu mengapa tapi berpura-pura tidak tahu saja. Ada saat di mana saya bisa tertawa di luar, ya hanya di luar. Tapi, ya tidak ada yang tahu bagaimana saya. Katanya saya merupakan tipe orang introvert. Saya agak mengakuinya juga, sih. Sebelumnya saya menyadari bahwa saya lebih sering membicarakan tentang orang lain ketimbang diri sendiri. Namun, banyak orang yang mengatakan bahwa saya extrovert. Mereka mungkin melihat bahwa saya cerewet, rame, gampang diisengin jadi mereka menilai saya sebagai orang yang terbuka. Yah, tidak apa-apa, kok. Memang itu sebagian diri saya.
Kalau dipikir-pikir, saya jarang sekali mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya terhadap keluarga. Selama ini yang saya lakukan adalah hanya bercerita tentang rutinitas keseharian saja. Dulu, saya sering bercerita. Setiap pulang sekolah, saya selalu bercerita tentang kejadian di sekolah, tentang teman, atau tentang guru yang sering kali memarahi saya. Tapi, sepertinya simbok saya sudah agak bosan gitu kali, ya, jadi kurang direspon gitu. Menyerahlah saya. Jadi malas cerita-cerita lagi.
Tapi, apa ya. Kalau saya sudah sungguh percaya dan merasa nyaman untuk bercerita, saya akan cerita kok apa saja yang saya rasakan. Saya suka bertukar pikiran. Meski begitu, terkadang saya tetap menjaga ranah kerahasiaan. Wajar lah ya, namanya juga manusia.
Nah, akhir-akhir ini saya condong ke introvert. Kenapa??? Sedang malas cerita-cerita dan lebih senang menyembunyikan saja. Meski tahu akibat dari akumulasi represi yang menekan, saya tetap saja melakukannya. Gimanalah, ya. Perasaan tidak nyaman ini menurut saya tidak usahlah dibagikan dengan orang lain. Oke, ada satu yang tahu. Guru perjuangan saya, hahaha. Saya butuh bantuan dia, maka dia saja. Tidak perlu orang banyak memikirkan saya seorang. Mereka masih banyak urusan meskipun saya tahu mereka akan membantu apa saja. Tapi, kali ini saya cuma butuh bantuan satu orang saja, kok. Dia masternya, sih. Haha..
Tulisan lo abstrak, cott!!!! Yah, namanya juga anak buahnya Yesus. Tulisannya jadi gini, deh. Perlu penafsiran yang lebih dari sekedar membaca. Nah, lo.
Dududuw..alangkah senangnya jika tahu tentang pribadi diri sendiri, jadi tahu apa yang akan dan harus dilakukan tanpa membohongi diri sendiri. Well,well,, tujuan tulisan ini adalah membuka satu sisi pribadi saya untuk saya sendiri atau untuk kamu yang membaca karena saya jarang membicarakannya. Hanya di blog ini lho, kamu bisa tahu aku lebih dalam (ahaha…).
Pada akhirnya, setiap permulaan harus dimulai dengan keterbukaan pikiran dan berani mengakui baik buruknya diri sehingga dapat melangkah ke tahap berikutnya.