Halaman

Rabu, 20 Februari 2013

WARUNG KOPI BU TINAH

Berlari aku menuju ke tempat di ujung sana yang menawarkan ketenangan dan kedamaian jiwa. Aku terus berlari, berlari, berlari menjauhi kehitaman pekat yang ada di belakangku. Tampak ada kilas bayangan hijau di sebelah kanan dan pusaran udara berwarna merah di sebelah kiriku. Setiap kaki menjejak tanah, pusaran merah itu seakan berusaha menyedotku dan memisahkan jiwa dari raga ini. Aku terus berlari, kutengokkan wajah ke sebelah kanan. Kilasan warna hijau itu menenangkan pikiranku dalam sekejap sementara pusaran merah berusaha keras untuk menyedotku ke arahnya. Oh, tolong! Aku harus segera sampai ke ujung sana sebelum hitam menyergap dan merah menyedotku! 
Suatu pagi yang sepi, belum ada siapa-siapa di sini. Tentu saja masih sepi, ini masih pukul empat pagi. Agak jauh dari tempatku berdiri, ada beberapa orang yang masih terlelap hanya beralaskan koran di bawah pagar stasiun. Beberapa meter dari tempat beberapa orang itu tidur, ada beberapa anak kira-kira usia sepuluh sedang merokok. Pemandangan seperti itu sering kudapatkan setiap aku berada di daerah in, tapi itu sudah lama sekali. Tiga tahun lamanya aku tidak berada di daerah ini. Sejak kejadian itu, kejadian yang sudah kubuang jauh ke dalam pikiran yang sedang tidur. Aku memusatkan kembali perhatian pada ponsel setelah tadi teralihkan untuk melihat pemandangan di sekitar stasiun. Aku menanti panggilan teleponku diangkat oleh laki-laki yang adalah kakakku. Aku sudah beberapa kali menelepon tapi tidak juga ada tanggapan darinya. Aku mulai cemas. Seorang perempuan sedang menunggu seorang diri di warung kopi di pagi hari yang masih sepi. Jika aku menjadi khawatir dan takut, sebenarnya hal itu sangat wajar mengingat lokasi tempatku menunggu adalah di seberang stasiun kereta api. Tempat yang tergolong cukup rawan tindak kriminal di daerah ini meski sesungguhnya tiada tempat yang aman di dunia. Aku kembali menelpon mas ganteng kesayanganku itu, masih juga belum ada tanggapan. Brengsek ini orang! batinku. “Kenapa, Mbak? Belum dijemput, ya?” tanya penjaga warung kopi tempatku menumpang duduk. Penjaga warung yang juga pemilik warung ini adalah seorang perempuan usia setengah baya dengan perawakan agak gemuk. Rambutnya digelung acak-acakan, matanya tampak merah, mungkin akibat menahan kantuk. “Iya, Bu. Lama banget, ga diangkat-angkat. Bu, boleh deh, saya pesan..ehm jangan kopi, ah. Teh panas satu gelas, ya,” kataku menjawab pertanyaan Bu Tinah. Namanya kuketahui setelah ia memperkenalkan dirinya sambil membuatkanku teh. Ia juga mengisahkan segelintir cerita hidupnya. Ia mempunyai tiga anak. Dua laki-laki dan satu perempuan, si bungsu. Dua anak laki-lakinya mengadu nasib di kota tetangga, sedangkan si bungsu masih belajar di SMK. Suami Bu Tinah sudah meninggal tujuh tahun lalu. Bu Tinah mulai membuka warung kopi semenjak tidak ada kehadiran suami sebagai penyokong nafkah keluarga. Saat siang hingga malam, Retno, anak bungsu Bu Tinahlah yang menjaga warung. Lalu, Bu Tinah menjaga warung dari malam hingga pagi. Sisa waktu digunakan untuk menutup warung dan beres-beres rumah. Rumahnya tidak jauh dari stasiun. Bu Tinah sempat mengundangku ke rumahnya jika aku ada waktu. Sungguh, seorang ibu yang tegar dan kuat! Kusesap dengan penuh kenikmatan sisa air teh yang ada di gelas. Ingatanku kembali terputar di masa tiga tahun lalu di kota ini. Waktu itu, kilau senja di atas sana mengingatkanku akan kamu, selalu. Setiap sore kala hari tidak hujan, aku selalu duduk menanti di halaman rumah, berharap kamu datang tiba-tiba memberiku kejutan. Waktu tidak terasa terus berlalu dan ternyata sudah cukup lama aku tidak berjumpa denganmu. Aku rindu. Kamu bilang hanya pergi sebentar saja. Aku pikir begitu, tetapi dua bulan menunggu kepulanganmu cukup menyiksaku. Untung saja minggu depan kamu pulang. Aku tak sabar bertemu denganmu, Mas. Semenjak Mas pergi bertugas ke Kalimantan dan tidak ada jadwal apel lagi, aku banyak meluangkan waktu untuk menulis. Biasanya aku menulis cerpen atau puisi. Sejak kecil aku memang hobi menulis, tetapi sekarang lebih intens menulis dibandingkan dulu. Banyak kisah yang aku tulis, kebanyakan tentang percintaan, sesekali tentang keluarga. Ada satu kisah yang paling kusuka. Aku menulis cerita ini di saat hujan membasahi bumi, angin memporak-porandakan kebun belakang rumah, dan seorang laki-laki berniat meninggalkan kekasihnya. Ceritanya tentang perpisahan dan berakhir dengan menyedihkan. Sampai aku merasakan, aku tahu apa kata yang paling sesuai dibanding kata menyedihkan. Mematikan. Tiga tahun aku meninggalkan kota ini hanya untuk menghindari tempat di mana dulu ada suatu kisah cinta dirajut di sini. Aku memutuskan untuk bekerja di Jakarta ketika ada tawaran kontrak kerja sebagai penulis. Beberapa cerpen dan puisi yang pernah kukirimkan ke suatu penerbitan ternyata disambut baik. Sampai kemarin, aku masih betah menjadi penulis yang melulu bercerita tentang kisah tragis dan perpisahan. Aku merasa ada yang salah denganku, ada masalah dalam diriku yang belum selesai hingga aku tidak dapat melangkah untuk menulis cerita tentang kebahagiaan. Aku tahu masalahku bermula di kota ini maka akan kuselesaikan juga di kota ini. Ketika aku memutuskan untuk kembali ke kota ini, aku tahu bahwa aku pasti akan merasakan rasa ini kembali. Aku tahu rasa rindu pasti akan muncul dan tidak akan memberitahukanku kalau rasa ini akan kembali. Aku tahu kalau rasa ini akan menghancurkan beton penghalang yang sudah kubuat sekokoh bangunan tinggi yang ada di kota. Aku melupakan bahwa jika ada celah sekecil apapun, aliran air kecil saja sudah dapat merusaknya apabila itu terus terjadi dengan waktu yang sangat lama. Aku tahu, aku tahu, aku tahu kalau aku rindu padanya. Tidak. Aku sangat teramat rindu padanya. Aku pulang ke kota ini hanya untuk melihatmu. Aku rindu melihatmu berdiri di di bawah pohon di mana kamu mengambilkan aku buah dari pohon itu. Aku ingin melihat kamu tersenyum di antara reruntuhan bangunan yang pernah kita kunjungi. Aku rindu saat kamu menggodaku dan sesekali menyentuh rambut atau tengkukku. Aku rindu melihatmu menatap marah karena tidak aku ajak bicara di suatu malam. Aku rindu kamu, bahkan ketika kamu diam dan pura-pura tertidur saat perjalanan jauh kita menuju kebebasan sementara itu. Aku rindu padamu. Aku menerima konsekuensinya jika aku hanya akan merasa sakit saat melihatmu nanti. Aku sanggup. Aku bisa. Aku bisa menangis tiada henti melihatmu bersama yang lain di sana. Aku tahu, aku tahu kamu sudah memilih yang lain. Aku tahu kamu sudah memutuskan itu dengan matang. Aku tahu, tapi ternyata aku tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Aku tidak tahu mengapa aku bisa bersedih seperti ini di saat kamu sedang berbahagia. “Mbak, mbak,” panggil Bu Tinah dengan lembut. “Iya, Bu. Ada apa?” tanyaku setelah terbebas dari pikiran yang melayang. “Sepertinya itu orang yang mbak tunggu. Sejak tadi mobilnya bolak-balik saja, seperti sedang mencari orang,” jelas Bu Tinah. Tidak lama kemudian, nada dering ponselku berbunyi. Suara kakak tercinta terdengar dari lubang suara ponsel. “Aku sudah sms kamu tapi nggak dibales. Kamu mana, sih? Aku tunggu di depan pintu stasiun, ya. Cepat, aku lapar,” kata Mas Tar. Baru saja jam 06.30 pagi dan dia sudah kelaparan. Benar-benar Mas Tar si tukang makan. Aku segera membayar satu gelas teh panas dan beberapa gorengan kepada Bu Tinah. “Terima kasih, Bu,” seruku, hendak bergegas menuju pintu stasiun di mana Mas Tar sedang menungguku. “Mbak, sampai jumpa. Semoga saya bisa melihat senyum mbak suatu saat nanti,” kata Bu Tinah yang sedang memandangiku sambil tersenyum hangat. Aku hanya tersenyum dan kemudian berlari menyeberangi jalan yang sepi, menjauhi warung kopi Bu Tinah dan segera mencari Mas Tar. Aku meninggalkan warung kopi Bu Tinah jauh di belakang. Sama seperti cerita yang kukenang tadi, kutinggalkan saja di warung kopi Bu Tinah untuk Bu Tinah bersihkan saat ia menyapu jalan di depan warung, nanti.

Kamis, 31 Januari 2013

PETILASAN PRABU JAYABAYA


Setelah mengunjungi arca Totok Kerot, kami melanjutkan ke tempat Petilasan Prabu Jayabaya. Terasa sangat ebrbeda ketika sudah memasuki suatu perkampungan. Suasana kampung ini sangat, sangat tua. Entah mengapa, saya merasa suasananya sangat pekat, sepi, dan saya bisa mengetahui gang di mana petilasan berada. Lagi-lagi, entah mengapa. Mungkin tebakan yang sedang beruntung saja, atau memang auranya sangat terasa. Kami parkir motor di salah satu rumah warga karena petilasan tidak menyediakan tempat parkir. Tempat berziarah ini tidak sesunyi tempat berziarah Ki Ageng Singoprono di Gunung Tugel, Boyolali (nanti akan dibahas juga), tetapi hal itu tidak mengurangi kemistisan petilasan ini. Saat kami datang, ada satu keluarga yang berkunjung, selain itu ada beberapa peziarah yang duduk di tanah beralaskan tikar. Kemungkinan besar, para peziarah itu menginap untuk berdoa ataupun semedi. Ada tiga tempat utama yang ada di petilasan, yaitu : Loka muksa, loka busana, dan loka makuta. Loka muksa adalah tempat di mana Prabu Jayabaya muksa, hilang, melakukan perjalanan keluar raga. Di situ juga makam Prabu Jayabaya yang ditemukan oleh Warsodikromo pada tahun 1860 melalui mimpi. Pada tahun 1975, tempat ini dipugar menjadi makam yang megah. Menurut Marwoto (2011), desain loka muksa ini melalui gambaran yang diberikan oleh Prabu Jayabaya dengan Ki Wirjodikarso di alam astral. Loka busana adalah lambang tempat busana diletakkan sebelum muksa. Loka muksa dikelilingi oleh dinding beton abu-abu tua, tidak dicat. Lokasi loka muksa ditumbuhi oleh banyak pohon tinggi yang membuat nyaman, bukan ngeri. Loka makuta yang berada di luar pagar loka muksa adalah lambang bahwa kerajaan sudah berada di luar, berakhir, untuk jaman yang akan datang. Di petilasan ini, saya khawatir Moty akan ketakutan seperti pada saat melihat arca Totok Kerot. Ternyata Moty senang sekali di sini. Moty tertawa ceria, berlari ke sana kemari (padahal ini tempat ziarah, hehe). Saya pikir memang berbeda, suasana di petilasan ini sangat nyaman, terang, dan ‘ringan’. Di daerah situ, Menang, ada Sendang Tirtokamandanu. Bulek saya sih, bilangnya ini tempat mandi putri-putri kerajaan. Ya, mungkin saja. Toh, daerah Menang ini disinyalir lokasi dari Keraton Kediri. Namun, saya belum sempat ke sana. Mungkin lain kali. Ada yang mau ikut?  sumber gambar (Loka Muksa) : dokumen pribadi

TOTOK KEROT

Totok Kerot merupakan arca raksasa ; arca dengan ukuran besar yang berada di tepi jalan Desa Bulupasar, Pagu, Kediri. Jika ingin ke Petilasan Prabu Jayabaya pasti melewati tempat ini. Arca ini berada di lokasi yang masih sangat asri, masih banyak pepohonan dan persawahan. Namun, entah beberapa waktu nanti, apakah masih sama keadaannya dengan sekarang. Arca dilindungi oleh pagar hijau yang memutar agar tidak ada pengunjung yang masuk. Lingkup arca ini hanya sepetakan saja. Jadi, saya hanya bisa mengambil gambar dari luar pagar saja. Arca ini sudah rusak, bagian tangan sebelah kiri tidak ada. Namun, selebihnya kondisi arca ini terawat.
Mitos. Arca Totok Kerot ini mempunyai mitos di baliknya. Warga sekitar meyakini bahwa arca tersebut bersifat mistis. Bulek (tante) saya yang asli orang Kediri dan sering ke tempat arca ini saat SD bilang bahwa arca itu dahulu pernah dipindah ke museum namun belum sampai satu hari di sana, pada tengah malam arca Totok Kerot sudah kembali ke tempat asalnya. Katanya juga, dulu arca ini tertimbun tanah. Cerita tentang Totok Kerot simpang siur.
Cerita yang saya dengar adalah tentang seorang putri suatu kerajaan yang menyukai Prabu Jayabaya dengan memaksa sehingga timbul perang. Lalu, Prabu Jayabaya mengutuk putri itu menjadi batu dengan rupa yang buruk. Rupa buruk itu merupakan penggambaran dari sifat buruk putri itu. Bulek saya juga bercerita, mimik wajah arca bisa berbeda-beda tergantung harapan orang yang melihat. Kalau ada orang yang mengatakan arca itu berwajah jelek, orang tersebut tidak akan mendapatkan senyuman dari Totok Kerot.
sumber gambar : dokumen pribadi
Pada saat saya ke sana, saya bersama bulek dan anaknya, Moty. Moty masih berusia dua, hampir tiga tahun. Ketika saya sudah selesai mengambil foto arca, Moty berkata, “Sik, sik.” Moty masih ingin melihat arca itu namun setelah beberapa saat Moty mengajak pulang. “Mulih,” katanya. “Ngopo, ty?” tanya bulek saya. “Dhemit,” kata Moty ketakutan sambil menutup wajahnya dan menarik kelopak mata bawah ke arah bawah dengan tangannya. Entah, Moty ketakutan karena apa. Hiii…. Lalu, kami melanjutkan perjalanan ke Petilasan Jayabaya.

PERJALANAN SEJARAH


PERJALANAN SEJARAH


Kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan-perjalanan sejarah yang telah saya lakukan. Sebenarnya, banyak sekali pengalaman saya yang berkaitan dengan wisata ke tempat-tempat bersejarah namun baru kali ini terpikirkan oleh saya untuk menuliskannya di blog.


Awal ketertarikan saya terhadap sejarah adalah saat saya mulai mengagumi Bung Karno. Hal ini tidak lain adalah pengaruh dari Mbah Kung saya. Beliau adalah veteran PETA yang sangat menghormati sosok Bung Karno. Ada dua lukisan besar Pak Karno di rumah Mbah Kung. Ada juga gambar burung garuda dan butir-butir pancasila yang terbingkai di sudut salah satu kamar. Nasionalis sekali Mbah saya ini J.


Nah, dari situ saya mulai tertarik untuk mencari tahu tentang Pak Karno dan membaca teks pidato beliau saat di PBB yang berjudul ”Build World A New”. Sejak dari situ saya suka sekali mencari tahu tentang hal-hal yang berbau vintage ; seperti kejadian masa lalu hingga fashion. Saya pikir, sejarah itu alurnya berulang. Sesuatu yang dulu pernah terjadi mungkin akan terjadi kembali pada masa ini, selalu berulang mengikuti alur lingkaran yang tidak pernah putus. Dahulu kala kita pernah berjaya, maka suatu saat kita juga akan kembali berjaya. Jadi, bagi saya sejarah merupakan rajanya pengetahuan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dan akan terjadi.


Well, sebenarnya saya sudah menjelejah banyak sekali candi dan tempat bersejarah di Jogja, namun kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya ke Totok Kerot, Petilasan Prabu Jayabaya, dan Goa Selomangleng di Kediri, Jawa Timur.

Memutar waktu ke belakang hanya untuk belajar. 


sumber gambar : www.google.com


Selasa, 15 Januari 2013

UDARA

Matahari keluar dari peraduannya.
Aku menatap jera ke arahnya.
Silau sekali ternyata.
Aku berdoa dalam hati pada sang mentari.
Agar hari ini ia tidak beranjak pergi ke balik awan.
Aku butuh cahayanya di setiap gerakku hari ini.
Aku sedang berjalan menuju tempat di mana ada udara.
Udara yang sejuk.
Di sini aku sesak.
Aku mau ke sana.
Arahkan terangmu sebentar, mentari.
Aku mau ke sana.
Aku mau dia.
Si Udara.

Rabu, 14 November 2012

MASALAH EMOSIONAL

Saat mengerjakan skripsi yang dibutuhkan pertama dan terpenting adalah ketahanan emosional bukan ketahanan intelektual. Bagiku, saat menyusun skripsi aku tidak bermasalah secara intelektual. Aku dapat mencari segala informasi dari berbagai sumber. Entah buku, jurnal, internet, ahli, maupun hasil dari sintesa yang telah kulakukan. Namun, ketika emosional memegang kendali dalam setiap proses penyusunan skripsi, itu menjadi masalah. Aku menjadi tidak fokus dan eerrr.. banyak gangguan!!! 
Aku harus sangat memperhatikan gejolak emosi yang terjadi pada diriku. Orait. Aku pikir, aku hanya tidak dapat mengendalikan emosi saat pengerjaan skripsi saja, tapi ternyata tidak! 
Jauh dari masalah pengerjaan skripsi, masalah terutama adalah ada pada diriku di mana aku terlalu melibatkan diri, meleburkan perasaan terlalu jauh pada hal yang merupakan bukan tanggung jawabku.
Saat aku melihat sesuatu hal yang tidak benar (menurutku) dan harus segera dibenahi untuk perkembangan kemanusiaan yang lebih baik, aku merasa terikat dan harus membantu untuk menuntaskan masalah itu.
Semangat yang berlebih untuk menolong itu tidak jarang dapat membuatku lupa akan hal-hal bersifat pribadi yang kumiliki. Aku terlalu melibatkan diri terlalu jauh ke dalam masalah orang lain. Bahasa anak sekarang, berle atau lebai, begitu 
Hal ini sekarang menyulitkanku. Pengambilan data yang kulalui dengan cara wawancara menjadi sulit dan tidak kompeten dalam menggali info yang baik. Itu terjadi karena aku memiliki kedalaman emosional yang berlebihan. Mengapa berlebihan? Kata 'berlebihan' ini menjelaskan bahwa kedalaman emosi yang kubangun terhadap subyek ternyata mencemari proses pengambilan data yang baik. Terlalu banyak subyektivitas di sana, tidak murni, dan terlalu melibatkan diriku bukan sebagai peneliti.
Masuk akal, bukan?
Itu belum sepenuhnya menjelaskan mengapa kedalaman emosi yang kubangun menjadi bermasalah. Setiap aku menyaksikan dan melibatkan perasaan yang terlalu dalam, masalah itu akan terinternalisasi dan menjadi bebanku. Jika terlalu banyak beban yang kupikul, apa yang akan terjadi padaku? Haaahhh... terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.
Sebagai contoh di mana aku mengetahui bahwa aku lemah dalam hal 'tidak memikirkan orang lain' ; aku menolak menjenguk seseorang yang sedang sakit (pengobatan+kehidupannya ditanggung oleh teman-teman) dengan alasan : aku sedang tidak mau melibatkan diri pada keadaan emosional mendalam karena aku merasa sedang tidak mampu, terlalu banyak mengetahui kehidupan anak-anak pingit dan merasa bahwa kebahagiaan mereka adalah tanggung jawabku. BERLE! Sampai aku mengatakan itu, aku baru sekedar tahu, belum menyadari bahwa efek dari kedalaman emosional yang kubangun kepada orang lain itu ternyata malah membebaniku.

Jika aku terus seperti ini dan menjadi psikolog, bisa-bisa aku menjadi psikolog yang keluar masuk RS Kejiwaan karena terlalu banyak menginternalisasi masalah klien. (*baru sadar, ternyata aku tidak pernah mau menjadi psikolog karena aku tidak punya keyakinan bahwa aku tidak akan membawa masalah klien ke dalam kehidupan pribadi)

Lalu, adakah pertentangan antara peneliti dan pendamping dalam mentreat anak? Berdasarkan diskusi dengan bapak dosen tercinta, Pak C. Adi W, tidak ada pertentangan. Peneliti maupun pendamping hendaknya sama-sama tidak melibatkan perasaan yang terlalu dalam karena dapat mempengaruhi cara seseorang dalam memperlakukan anak. Bahkan, pendidik pun tidak melibatkan perasaan terlalu dalam, katanya. Mungkin begini yah simpelnya, "Aku tahu dan dapat memahami masalah-masalah mereka, namun saat di rumah (keadaan secara pribadi) itu tidak mempengaruhiku lagi. Ada kesadaran, ada kontrol, ada pemisahan."

Bagaimana mengakali agar aku bisa seperti itu? Tentu saja latihan. (*tanya sendiri, jawab sendiri --> caraku berefleksi :P)


Semoga saja, ini bukan sekedar tulisan tetapi juga akan menjadi perwujudan. Ehmm.. bukan akan tapi terlaksana! 

Terima kasih, skripsi. Berkat adanya skripsi, aku menjadi tahu bahwa aku memiliki kecenderungan untuk menjadikan masalah orang lain sebagai tanggung jawabku, bebanku. Ehmm.. jika ditilik kembali mungkin ini adalah *superhero syndrom. (*semakin terkuatkan )

Setiap permasalah yang terjadi pada akhirnya harus diselesaikan 
dan menjadi pembelajaran agar tidak terulang kembali. 



-Aku tahu tulisanku tidak runtut, yah masih butuh berlatih untuk menyusun berbagai hal secara sistematis.-


Bukan hanya dikatakan, dirancanakan tetapi dialami dan dihidupi. :)